Sabtu, 27 September 2014

 Pertemuan 3

tugas datawarehouse

1.mencari paper perusahaan ingin membangun data warehouse
2.memperkirakan kebutuhan membangun data warehouse pada paper tsb (dibawah)


beberapa kutipan dari paper tentang perusahaan:

Prosedur Penjualan Barang

Pada Perusahaan Teh Sedap, prosedur penjualan barang kepada customer dilakukan dengan cara membelinya melalui salesman. Sehingga customer tidak secara langsung membeli barang ke kantor. Pertama kali salesman akan mengambil barang-barang yang banyak dibeli oleh customer di daerah pemasaran masing-masing salesman. Setelah itu salesman akan mengambil barang-barang yang tersedia di gudang dan menyiapkan barang-barang tersebut.  Pihak gudang kemudian membuat laporan pengeluaran barang. Setelah selesai membuat laporan pengeluaran barang, pihak gudang memeriksa apakah barang-barang yang telah diambil telah sesuai dengan permintaan salesman. 

Apabila barang-barang yang telah diambil tersebut telah sesuai, maka pihak gudang akan melakukan input ke delivery order sebanyak tiga rangkap dimana lembar pertama diserahkan kepada kasir, lembar kedua diserahkan kepada salesman, dan lembar ketiga akan disimpan oleh pihak gudang. Setelah itu, barang-barang tersebut akan dibawa oleh para salesman dan salesman akan berkeliling sesuai dengan daerah pemasaran masing-masing yang telah ditetapkan oleh perusahaan.

Salesman yang telah membawa barang-barang tersebut kemudian memasarkan barang-barang tersebut, dan apabila ada customer yang ingin memesan barang, salesman akan mengecek apakah barang tersebut tersedia di mobil. Apabila barang yang dipesan oleh customer tersebut tersedia, maka salesman akan mencatat pesanan tersebut dan membuat sales order.

Jenis pembayaran yang dapat dilakukan oleh customer adalah pembayaran tunai dan pembayaran kredit. Pembayaran tunai adalah pembayaran yang dilakukan langsung oleh customer kepada salesman pada saat barang yang telah diinginkan oleh customer telah tersedia dan customer melakukan pembelian. Sedangkan pembayaran secara kredit adalah customer tidak secara langsung membayar kepada salesman tersebut, namun pembayaran dilakukan pada suatu waktu tertentu. Pembayaran secara kredit yang disediakan oleh Perusahaan Teh Sedap adalah pembayaran kredit selama seratus hari. Apabila customer yang  melakukan pembayaran secara kredit telah jatuh tempo maka salesman akan menagih pembayaran tersebut.


Apabila customer melakukan pembayaran tunai maka sales akan menulis di dalam sales order jumlah pembayaran tunai yang telah dibayar. Tetapi apabila customer melakukan pembayaran secara kredit maka sales akan menulis sales order bahwa pembayaran yang dilakukan oleh customer adalah pembayaran secara kredit. Kemudian salesman akan memberikan satu rangkap sales order yang telah ditulis tersebut kepada customer yang bersangkutan. Apabila customer melakukan pembayaran secara tunai, maka salesman akan menerima pembayaran tunai tersebut dan customer akan diberikan sales order rangkap pertama, sedangkan apabila customer melakukan pembayaran secara kredit maka customer akan diberikan sales order rangkap kedua.


Setelah salesman selesai dalam memasarkan barang kepada customer, sales order rangkap tiga dan rangkap empat diberikan kepada bagian kasir. Sales order yang telah dibuat oleh salesman akan dikumpulkan dan diberikan kepada kasir untuk dicek dan dimasukkan ke dalam database perusahaan. 

Kasir akan membagi pemesanan tersebut menjadi pemesanan dengan pembayaran secara tunai dan pembayaran secara kredit. Kemudian salesman membuat laporan sales mengenai barang-barang apa saja yang terjual dan jumlah pembayaran yang terjadi. Dimana laporan tersebut akan diserahkan kepada bagian kasir agar bagian kasir dapat  membuat laporan penjualan harian dan juga memperbaharui data piutang perusahaan.

Salesman telah diberi target oleh perusahaan mengenai jumlah produk yang harus dipasarkan dan salesman juga diharapkan dapat menganalisis produk-produk apa saja yang banyak dipesan oleh customer di daerah pemasaran mereka masing-masing sehingga akan memudahkan di dalam penyediaan barang (stok) dan mempermudah pihak eksekutif dalam menentukan strategi pemasaran yang baik.

Analisis Kebutuhan Data dan Informasi

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, data dan informasi yang dilakukan dalam kegiatan operasional penjualan pada Perusahaan Teh Sedap, yaitu :

1. Mengetahui harga jual barang yang dibeli oleh customer.

2. Mengetahui banyaknya penjualan barang.

3. Mengetahui besarnya penjualan barang.

4. Mengetahui besarnya piutang apabila customer melakukan pembelian secara kredit.

5. Mengetahui jumlah barang yang diretur oleh costumer.


Masalah Yang Dihadapi

Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang minuman teh, perusahaan perlu meningkatkan usahanya untuk menghadapai persaingan yang ketat. Namun di dalam meningkatkan usaha tersebut, terdapat beberapa masalah yang dihadapi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka ada beberapa masalah yang dihadapi oleh Perusahaan Teh Sedap, yaitu sebagai berikut :

a. Belum tersedianya alat bantu aplikasi yang dapat dengan cepat memberikan informasi dalam bentuk grafik, yang dapat membantu pihak eksekutif melihat dan menganalisis berdasarkan grafik yang ditampilkan tersebut.

b. Data yang ada tidak terintegrasi dengan baik, sehingga jika membutuhkan suatu data pada data historis akan memakan waktu yang lama.

c. Pihak eksekutif mengalami kesulitan dalam pengambilan keputusan. Hal ini disebabkan karena belum tersedianya aplikasi yang dapat menyediakan dan mengumpulkan data secara cepat dan akurat yang dapat mendukung pengambilan keputusan tersebut.


d. Kurang adanya pengaksesan data dan pengelolaan data yang optimal, padahal data-data tersebut dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan analisa bisnis yang dapat membantu pihak eksekutif dalam menentukan strategi bisnis yang tepat untuk perusahaan.




2.memperkirakan kebutuhan membangun data warehouse pada paper tsb


Usulan Pemecahan Masalah

Berdasarkan masalah-masalah yang dihadapi oleh Perusahaan Teh Sedap, maka pemecahan masalah yang diusulkan adalah sebagai berikut :

a. Merancang sebuah data warehouse yang berisi data OLTP Perusahaan Teh Sedap. Dengan adanya data warehouse, pihak eksekutif dapat memperoleh data dan informasi secara cepat dan akurat.

b. Data warehouse dapat menyediakan data – data yang dibutuhkan dalam jangka waktu tertentu yang dapat menunjang dalam pengambilan keputusan khususnya di bidang penjualan yang mencakup penjualan barang, piutang, dan retur.

c. Merancang sebuah aplikasi data warehouse dimana laporan yang dihasilkan dapat ditampilkan ke dalam bentuk tabel dan grafik yang mudah untuk diakses dan digunakan oleh pihak-pihak yang membutuhkan di perusahaan.

Kebutuhan membangun data warehouse

Dalam perancangan data warehouse untuk Perusahaan Teh Sedap digunakan bentuk data warehouse terpusat (Centralized Data Warehouse). Perusahaan Teh Sedap harus memiliki sebuah database yang dapat digunakan untuk membuat laporan atau sebagai dasar bagi pengembang sistem EIS (Executive Information System) maupun DSS (Decision Support System) dimasa yang akan datang.
Adapun alasan-alasan menggunakan data warehouse terpusat (Centralized Data Warehouse) adalah:
1. Sistem yang telah berjalan pada Perusahaan Teh Sedap menggunakan arsitektur terpusat, sehingga dengan menggunakan data warehouse terpusat tidak perlu mengubah infrastruktur yang sudah ada, tetapi cukup menggunakan infrastruktur yang sudah ada.
2. Mempermudah pengawasan, pengaksesan data, dan maintenance pada penggunaan aplikasi data warehouse.
3. Pengembangan yang relatif mudah.
4. Mempermudah pemakai untuk memperoleh data yang terintegrasi, konsisten, dan berada pada satu lokasi saja.

halaman download paper:
http://www.mediafire.com/download/m1j626swxksudvn/2008-1-00372-IF.rar

Sabtu, 20 September 2014

Pertemuan 2

Resume Data warehouse

Karakteristik Data Warehouse
Berdasarkan definisi yang dikemukakan Inmon tentang data warehouse, maka data warehouse mempunyai empat buah karakteristik yaitu :

1. Subject Oriented
Sebagaimana telah dijelaskan, data di dalam data warehouse didapat dari data yang ada di sistem operasional. Pada sistem operasional tersebut data diambil berdaskan aplikasi kejadian-kejadian yang ada. Sedangkan pada data warehouse data-data yang berdasarkan aplikasi kejadian tersebut dirubah menjadi data yang berdasarkan pada subjek yang terlibat pada kejadia-kejadian tersebut. Misalnya, sebuah super market pada sistem operasionalnya mencatat transaksi penjualan yang ada di setiap kasir, pembelian barang, dan penggajian karyawan. Maka data warehouse mengelompokkan data hasil kejadian-kejadian tersebut ke dalam berbagai subjek misalnya barang, karyawan, pemasukan, penggajian, dan pemasok. 

2. Integrated
Data yang tersebar di banyak sistem operasional terkadang tidak beragam, baik itu penamaan field, nilai dari sebuah field, atau tipe data yang berbeda-beda untuk suatu hal yang sama. Sebagai contoh, suatu sistem operasional mendefinisikan isi dari field jenis kelamin adalah “pria” atau “wanita”, sedangkan pada sistem operasional lain field tersebut diisi dengan “laki-laki” atau “perempuan”. Hal seperti itulah yang harus diselaraskan agar data di data warehouse seragam sehingga proses analisis dapat dilakukan

3. Non-volatile
Dikarenakan data yang ada di data warehouse adalah data historis untuk kebutuhan masa mendatang, maka data yang ada tersebut bersifat non-volatile atau dengan kata lain, sekali data di-commit untuk masuk, maka data yang telah masuk tersebut tidak dapat diupdate dan dihapus.

4. Time variant
Setiap data yang masuk ke data warehouse dicatat berbagai waktunya, dimulai dari kapan data itu masuk, kapan sebuah transaksi terjadi, kapan terjadinya perubahan. Selain itu terkadang untuk menjaga performa, tabel-tabel fisik yang ada di data warehouse dapat dikelompokkan berdasarkan waktu sesuai kebutuhan analisis. Dengan adanya pencatatan dan pengelompokan waktu tersebut akan sangat membantu dalam kegiatan analisis data historis.


Manfaat Data Warehouse
Berdasarkan pada penjelasan-penjelasan tersebut di atas, dapat disebutkan bahwa penggunaan data warehouse akan memberikan berbagai manfaat, diantaranya :
  • Walaupun mahal dalam pembuatannya, namun untuk kebutuhan pelaporan dan analisis dapat lebih menghemat biaya dan waktu.
  • Dikarenakan terlebih dahulu mengisi data ke data warehouse, ketidakkonsistenan yang ada dapat diketahui dan diatasi sehingga akan mempermudah pelaporan dan analisis.
  • Data yang ada di dalam data warehouse dapat digunakan untuk sistem pendukung keputusan.
  • Data yang ada di dalam data warehouse akan tetap ada walaupun data di sistem operasional telah berubah atau dihapus
DATA MART
Bagian dari data warehouse yang mendukung kebutuhan pada tingkat departemen atau fungsi bisnis tertentu dalam perusahaan. Karakteristik yang membedakan data mart dan data warehouse adalah sebagai berikut (Connolly, Begg, Strachan 1999).
  • Data mart memfokuskan hanya pada kebutuhan-kebutuhan pemakai yang terkait dalam sebuah departemen atau fungsi bisnis.
  • Data mart biasanya tidak mengandung data operasional yang rinci seperti pada data warehouse.
  • Data mart hanya mengandung sedikit informasi dibandingkan dengan data warehouse. Data mart lebih mudah dipahami dan dinavigasi.
Contoh Data Mart
1.     SmartMart (IBM)
2.     Visual Warehouse (IBM)
3.     PowerMart (Informatica)


Perbedaan Data Warehouse Dan data mining
Sebuah gudang data, seperti data mart, berkaitan dengan bidang studi ganda dan biasanya dilaksanakan dan dikendalikan oleh unit organisasi pusat seperti perusahaan Teknologi Informasi (TI) kelompok. Seringkali, hal itu disebut data warehouse pusat atau perusahaan. Biasanya, data warehouse merakit data dari sistem beberapa sumber.
Tidak ada dalam definisi dasar membatasi ukuran data mart atau kompleksitas dari keputusan-dukungan data yang mengandung. Namun demikian, data mart biasanya lebih kecil dan kurang kompleks daripada gudang data, sehingga, mereka biasanya lebih mudah untuk membangun dan memelihara. 


Kategori
Data Warehouse
Data Mart
Cakupan
Perusahaan
Bidang Usaha (LOB)
Subyek
Kelipatan
Tunggal subjek
Sumber Data
Banyak
Beberapa
Ukuran (khas)
100 GB-TB +
<100 GB
Implementasi Waktu
Bulan untuk tahun
Bulan

 Metadata dalam Definisi, Fungsi, dan Jenisnya

Pengertian yang lainnya menyebutkan metadata adalah informasi terstruktur yang mendeskripsikan, menjelaskan, menemukan, atau setidaknya membuat menjadikan suatu informasi mudah untuk ditemukan kembali, digunakan, atau dikelola. Metadata sering disebut sebagai data tentang data atau informasi tentang informasi. Metadata ini mengandung informasi mengenai isi dari suatu data yang dipakai untuk keperluan manajemen file/data itu nantinya dalam suatu basis data. Jika data tersebut dalam bentuk teks, metadatanya biasanya berupa keterangan mengenai nama ruas (field), panjang field, dan tipe fieldnya: integer, character, date, dll. Untuk jenis data gambar (image), metadata mengandung informasi mengenai siapa pemotretnya, kapan pemotretannya, dan setting kamera pada saat dilakukan pemotretan. Satu lagi untuk jenis data berupa kumpulan file, metadatanya adalah nama-nama file, tipe file, dan nama pengelola (administrator) dari file-file tersebut

Fungsi Metadata :
Metadata memberikan fungsi yang sama seperti katalog yaitu:
·        membuat sumberdaya bisa ditemukan dengan menggunakan kriteria yang relevan;
·        mengidentifikasi sumberdaya
·        mengelompokkan sumberdaya yang serupa
·        membedakan sumberdaya yang tak miliki kesamaan
·        memberikan informasi lokasi

Jenis Metadata :
            Terdapat tiga jenis utama metadata ;
1.Metadata deskriptif menggambarkan suatu sumberdaya dalam maksud seperti penemuan dan identifikasi. Dia bisa meliputi elemen semisal judul, abstrak, pengarang, dan kata kunci.
2.Metadata struktural menunjukkan bagaimana kumpulan obyek disusun secara bersama-sama menjadi satu, semisal bagaimana halaman-halaman ditata untuk membentuk suatu bab.
3.Metadata administratif menyediakan informasi untuk membantu mengelola sumberdaya, semisal terkait kapan dan bagaimana suatu informasi diciptakan, tipe dokumen dan informasi teknis lainnya, serta siapa yang bisa mengaksesnya.


: Referensi ::
[1] Inmon, W.H. (2002). Building the Data Warehouse third edition. Toronto : John Wiley & Sons
[2] docs.oracle.com/html/E10312_01/dm_concepts.htm

Jumat, 12 September 2014

Pertemuan 1

Resume Datawarehouse 


Datawarehouse adalah database yang didesain khusus untuk mengerjakan proses query, membuat laporan dan  analisa. Data yang disimpan adalah data business history dari sebuah organisasi /perusahaan, dimana data tersebut tidak tersimpan secara rinci/detil. Sehingga data dapat bertahan lebih lama berbeda dengan data OLTP (Online Transactional Processing) yang tersimpan sampai prosesnya berlangsung secara lengkap.

Datawarehouse adalah kumpulan macam-macam data yang subject oriented, integrated, time variant, dan nonvolatile. dalam mendukung proses pembuatan keputussan. Inmon
and Hackathorn (1994).
Datawarehouse sering diintegrasikan dengan berbagai sistem aplikasi untuk mendukung proses laporan dan analisis data dengan menyediakan data histori, yang menyediakan infrastruktur bagi EIS dan DSS
History dibangunnya Data Warehouse
  • Pada tahun 1990 bisnis semakin komplek, perusahaan tersebar secara global dan kompetisi yang berat.
  • Usaha bisnis eksekutif menjadi tersebar dalam persaingan informasi.
  • Sistem operasional menyediakan informasi untuk menjalankan operasi sehari-hari, tetapi eksekutif memerlukan berbagai macam jenis informasi yang dapat mendukung dalam pengambilan keputusan yang strategis.
  • Sistem operasional sangat penting untuk perusahaan, namun tidak dapat menyediakan informasi yang strategis. Oleh karena itu, perusahaan perlu mengarah kepada cara yang baru dalam memperoleh informasi yang strategis.
Membedakan antara Sistem Operasional dan Sistem Informasi
  • Sistem Operasional : adalah OLTP, adalah sistem yang digunakan untuk menjalankan inti bisnis sehari-hari dalam perusahaan. Mereka disebut bread-and butter sistem. Sistem operasional membuat bisnis berjalan dengan baik. Sistem secara khusus mendapatkan data dalam database, masing-masing informasi informasi proses transaksi tentang entity tunggal seperti pesanan tunggal, atau konsumen tunggal.
  • Sistem Informasi : Strukturisasi informasi yang utuh dan terintegrasi dalam sebuah organisasi. Yang digunakan dalam pembuatan keputusan strategis.
Data Warehouse menjadi Solusi yang sehat.
  • Database dirancang untuk tugas-tugas analitik.
  • Data berasal dari beberapa aplikasi.
  • Mudah digunakan oleh pengguna.
  • Baca intensif data penggunaan langsung berinteraksi dengan sistem.
  • Konten diperbarui secara berkala dan stabil.
  • Konten untuk memasukkan data saat ini dan history.
  • Kemampuan bagi pengguna untuk menjalankan query dan mendapatkan hasil yang online.
  • Kemampuan pengguna untuk membuat laporan.
Manfaat Data Warehouse
  1. Kemampuan mengakses data yang berskala perusahaan.
  2. Kemampuan memiliki data yang konsisten.
  3. Dapat melakukan analisis secara cepat.
  4. Dapat digunakan untuk mencari redudansi usaha di perusahaan.
  5. Menemukan gap antara pengetahuan bisnis dengan proses bisnis.
  6. Meminimalkan biaya administrasi.
  7. Meningkatkan kinerja pegawai perusahaan untuk dapat melakukan tugasnya dengan lebih efektif.
Kesimpulan
Data Warehouse adalah sebuah lingkungan informasi yang :
  • Menyediakan pandangan terpadu dan total dari seluruh perusahaan-perusahaan.
  • Membuat pengambilan keputusan menjadi mudah dan tanpa menghalangi sistem operasional transaksi.
  • Organisasi informasi yang konsisten.
  • Menyajikan fleksibel dan interaktif sumber informasi strategis.
OLTP
Data Warehouse
  • Menangani data saat ini
  • Data bisa saja disimpan pada beberapa platform
  • Data diorganisasikan berdasarkan fungsi atau operasi
    seperti penjualan
  • Pemrosesan bersifat berulang
  • Melayani banyak pemakai operasional
  • Berorientasi pada transaksi.
  • Lebih cenderung menangani data masa lalu
  • Data disimpan dalam satu platform
  • Data diorganisasikan menurut subyek seperti pelanggan
    atau produk
  • Pemrosesan sewaktu waktu, tak terstruktur dan bersifat
    heuristik
  • Untuk mendukung keputusan yang strategis
  • Untuk mendukung pemakai menejerial yang berjumlah
    relatif sedikit
  • Berorientasi pada analisis.
 Perbedaan Data Warehouse dan OLTP
OLTP
  • Menangani data saat ini
  • Data bisa saja disimpan pada beberapa platform
  • Data diorganisasikan berdasarkan fungsi atau operasi
    seperti penjualan
  • Pemrosesan bersifat berulang
  • Melayani banyak pemakai operasional
  • Berorientasi pada transaksi.
Data Warehouse
  • Lebih cenderung menangani data masa lalu
  • Data disimpan dalam satu platform
  • Data diorganisasikan menurut subyek seperti pelanggan
    atau produk
  • Pemrosesan sewaktu waktu, tak terstruktur dan bersifat
    heuristik
  • Untuk mendukung keputusan yang strategis
  • Untuk mendukung pemakai menejerial yang berjumlah
    relatif sedikit
  • Berorientasi pada analisis.
OLTP vs OLAP
  • Database OLTP dirancang untuk kemudahan data entry dan bukan untuk keperluan report. Membuat report dari database OLTP dengan struktur yang kompleks akan sangat sulit. Selain itu proses pengambilan data pada saat report ditampilkan akan mempengaruhi performance database OLTP karena untuk analisis data yang diambil merupakan agregasi yang akan menghabiskan resource server.
  • Dengan database OLAP, data yang disimpan sudah berupa hasil agregasi yang akan mempercepat waktu dan performance database. Selain itu struktur data pada database OLAP juga akan memudahkan proses pembuatan report dan analisa data.

sumber:
http://ptiseptianpunya.blogspot.com
http://saptaindrapermana.blogspot.com
http://davidsilembu.blogspot.com

Minggu, 31 Maret 2013

resume jarkom

PENGERTIAN JARKOM

*) Jarkom adalah sekelompok computer otonom yang saling berhubungan 1 dengan yang lainnya menggunakan protocol komunikasi melalui media komunikasi
*) Otonom adalah memilki kemampuan sendiri untuk mengolah informasi
*) Protokol adalah suatu aturan komunikasi yang disepakati untuk digunakan berkomunikasi
*) Contohnya ;
                1. TCP/IP (Transmission Control Protokol / Internet Protokol) – Open Protokol
                2. NetBean – Ms.Windows
                3. IPX / SPX – Novel Note Wer
*) Media yang digunakan ;
                1. Interface
                2. Media Transmission (kabel,wireless)
                                - Guided Media (perlu diarahkan, contohnya kabel)
                                - Unguided Media (tidak perlu diarahkan, contohnya radio komunikasi)

*) OSI (Open System Interconection) adalah sebuah gagasan yang dicetuskan oleh ISO
*) 7 lapisan OSI antara lain ;
1. Physical (Byte) ; Layer / lapisan yang mengatur hubungan fisik mulai dari pint out, voltase, transmisi biner. Physical hanya bisa mengalirkan tidak bisa menanipulasi. Apabila terjadi tabrakan semua hub harus dimatikan / direstart. Secara keamanan data sangat tidak aman, karena apabila simpul 1 mengirimkan data semuanya akan mendapatkan data.
2. Data Link (Frame) ; Lapisan ini mengubah data biner – frame dan frame – biner. Data sudah berupa frame jadi dilayer ini tidak akan terjadi colution, hal ini disebut MAC Addresss, pengalamatan secara physical (physical dari alamat note).
3. Network (Packet) ; Lapisan ini transmisi mengacu pada logical address datanya berupa packet. Karena logical address sehingga mempunyai banyak station.
4. Transport (Sagment) ; Bagaimana data itu dibawa, mengacu pada port number, datanya berupa segment. Tidak ada network device yang spesifik.
5. Session (Data) ; Bagaimana hubungan itu djaga. Aplikasinya adlah SQL.
6. Presentation ( Data) ; Bagaimana data direpresentasikan, alatnya tidak ada. Menjamin data agar dapat dibaca oleh aplikasi.
7. Application (Data) ; Menyediakan layananjaringan kedalam bentuk sebuah aplikasi.

LAPISAN JARINGAN KOMPUTER

lapisan-lapisan dan tugas yang dimilikinya adalah :
1. Layer 1 – Physical
physical adalah layer/lapisan yang mengatur hubungan fisik mulai dari pin out,voltage,transmisi binary.Lapisan ini nampak.Dan datanya namanya Bit.Lapisan ini juga berhubungan dengan sinyal-sinyal listrik, sinar maupun gelombang radio yang digunakan untuk mengirimkan data.Pada lapisan ini juga dijelaskan mengenai  jarak terjauh yang mungkin digunakan oleh sebuah media fisik. Pada lapisan ini juga diantur bagaimana cara melakukan collision control.Contoh dari lapisan ini adalah hub (physical device).
Hal-hal penting yang dapat dibahas lebih jauh dalam lapisan fisik ini adalah:
  • Karakteristik fisik daripada media dan antarmuka.
  • Representasi bit-bit. Maksudnya lapisan fisik harus mampu menterjemahkan bit 0 atau 1, juga termasuk pengkodean dan bagaimana mengganti sinyal 0 ke 1 atau sebaliknya.
  • Data rate (laju data).
  • Sinkronisasi bit.
  • Line configuration (Konfigurasi saluran). Misalnya: point-to-point atau point-to-multipoint configuration.
  • Topologi fisik. Misalnya: mesh topology, star topology, ring topology atau bus topology.
  • Mode transmisi. Misalnya : half-duplex mode, full-duplex (simplex) mode.
  • kemungkinan tabrakan antar data sangat tinggi.
  • secara security keamanan datanya tidak aman karena simpul lainnya akan bisa menerima pesan yang dikirimkan.
2. Layer 2 – Data Link

lapisan ini mengubah data biner menjadi frame dan sebaliknya dari frame menjadi data biner.Lapisan data link berfungsi mentransformasi lapisan fisik yang merupakan fasilitas transmisi data mentah menjadi link yang reliabel. Lapisan ini menjamin informasi bebas error untuk ke lapisan di atasnya.
Pada sisi pengirim, lapisan ini mengatur bagaimana data yang akan dikirimkan diubah menjadi deretan angka ’1′ dan ’0′ dan mengirimkannya ke media fisik. Sedangkan pada sisi penerima,lapisan ini akan merubah deretan angka ’1′ dan ’0′ yang diterima dari media fisik menjadi data yang lebih berarti. Pada lapisan ini juga diatur bagaimana kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi ketika transmisi data diperlakukan.
Lapisan   ini   terbagi   atas   dua   bagian,   yaitu  Media   Access   Control (MAC) yang   mengatur bagaimana sebuah peralatan dapat memiliki akses untuk mengirimkan data dan  Logical Link Control (LLC) yang bertanggung jawab atas sinkronisasi frame, flow control dan pemeriksaan error. Pada   MAC   terdapat   metode-metode   yang   digunakan   untuk   menentukan   siapa   yang berhak   untuk   melakukan   pengiriman   data.   Pada   dasarnya   metode-metode  itu   dapat   bersifat terdistribusi (contoh: CSMA/CD atau CSMA/CA) dan bersifat terpusat (contoh: token ring).Secara keseluruhan, lapisan Data Link bertanggung jawab terhadap koneksi dari satu node ke node berikutnya dalam komunikasi data.

 3. Layer 3 – Network
Pada lapisan ini mekanisme mengacu pada logical Address dan datanya bernama Package.Lapisan ini akan menterjemahkan alamat lojik sebuah host menjadi sebuah alamat fisik. Lapisa ini juga bertanggung jawab untuk mengatur rute yang akan dilalui sebuah paket yang dikirim agar dapat sampai pada tujuan. Jika dibutuhkan penentuan jalur yang akan dilalui sebuah paket,maka sebuah router akan menentukan jalur ‘terbaik’ yang akan dilalui paket tersebut. Pemilihan jalur atau rute ini dapat ditentukan secara statik maupun secara dinamis.
Adapun tanggung jawab spesifik lapisan network ini adalah:

  • Logical addressing. Bila pada lapisan data link diimplementasikan physical addressing untuk penangan pengalamatan/addressing secara lokal, maka pada lapisan network problematika addressing untuk lapisan network bisa mencakup lokal dan antar jaringan/network. Pada lapisan network ini logical address ditambahkan pada paket yang datang dari lapisan data link.
  • Routing. Jaringan-jaringan yang saling terhubung sehingga membentuk internetwork diperlukan metoda routing/perutean. Sehingga paket dapat ditransfer dari satu device yang berasal dari jaringan tertentu menuju device lain pada jaringan yang lain.
 4. Layer 4 – Transport
Menjamin penerima mendapatkan data seperti yang dikirimkan dan mengacu pada service number serta datanya adalah segment.Lapisan transport bertanggung jawab untuk pengiriman source-to-destination (end-to-end) daripada jenis message tertentu. Tanggung jawab spesifik lapisan transport ini adalah:

  • Sevice-point addressing. Komputer sering menjalankan berbagai macam program atau aplikasi yang berlainan dalam saat bersamaan. Untuk itu dengan lapisan transport ini tidak hanya menangani pengiriman/delivery source-to-destination dari computer yang satu ke komputer yang lain saja namun lebih spesifik kepada delivery jenis message untuk aplikasi yang berlainan. Sehingga setiap message yang berlainan aplikasi harus memiliki alamat/address tersendiri lagi yang disebut service point address atau port address.
  • Segmentation dan reassembly. Sebuah message dibagi dalam segmen-segmen yang terkirim. Setiap segmen memiliki sequence number. Sequence number ini yang berguna bagi lapisan transport untuk merakit/reassembly segmen-segman yang terpecah atau terbagi tadi menjadi message yang utuh.
  • Connection control. Lapisan transport dapat berperilaku sebagai connectionless atau connection-oriented.
  • Flow control. Seperti halnya lapisan data link, lapisan transport bertanggung jawab untuk kontrol aliran (flow control). Bedanya dengan flow control di lapisan data link adalah dilakukan untuk end-to-end.
  • Error control. Sama fungsi tugasnya dengan error control di lapisan data link, juga berorientasi end-to-end.
5. Layer 5 – Session
Lapisan ini bertanggung jawab untuk membangun, memelihara dan memutuskan koneksi antar aplikasi. Pada kenyataannya lapisan  ini sering digabung dengan Application Layer.
Tanggung jawab spesifik:

  • Dialog control.
  • Sinkronisasi
6. Layer 6 – Presentation
Agar berbagai aplikasi jaringan komputer yang ada di dunia dapat saling terhubung, seluruh aplikasi tersebut harus mempergunakan format data yang sama. Lapisan ini bertanggung jawab atas bentuk format data yang akan digunakan dalam melakukan komunikasi.
Presentation layer lebih cenderung pada syntax dan semantic pada pertukaran informasi dua sistem. Tanggung jawab spesifik:

  • Translasi
  • Enkripsi
  • Kompresi
7. Layer 7 – Application
Lapisan ini adalah di mana interaksi dengan pengguna dilakukan. Pada lapisan inilah semua jenis program jaringan komputer seperti browser dan email client berjalan.

SISTEM BILANGAN BINER

Sistem bilangan biner atau sistem bilangan basis dua adalah sebuah sistem penulisan angka dengan menggunakan dua simbol yaitu 0 dan 1. Sistem bilangan biner modern ditemukan oleh Gottfried Wilhelm Leibniz pada abad ke-17. Sistem bilangan ini merupakan dasar dari semua sistem bilangan berbasis digital. Dari sistem biner, kita dapat mengkonversinya ke sistem bilangan Oktal atau Hexadesimal. Sistem ini juga dapat kita sebut dengan istilah bit, atau Binary Digit. Pengelompokan biner dalam komputer selalu berjumlah 8, dengan istilah 1 Byte/bita. Dalam istilah komputer, 1 Byte = 8 bit. Kode-kode rancang bangun komputer, seperti ASCII, American Standard Code for Information Interchange menggunakan sistem peng-kode-an 1 Byte.

contoh: mengubah bilangan desimal menjadi biner
desimal = 10.
berdasarkan referensi diatas yang mendekati bilangan 10 adalah 8 (23), selanjutnya hasil pengurangan 10-8 = 2 (21). sehingga dapat dijabarkan seperti berikut
10 = (1 x 23) + (0 x 22) + (1 x 21) + (0 x 20).
dari perhitungan di atas bilangan biner dari 10 adalah 1010
dapat juga dengan cara lain yaitu 10 : 2 = 5 sisa 0 (0 akan menjadi angka terakhir dalam bilangan biner), 5(hasil pembagian pertama) : 2 = 2 sisa 1 (1 akan menjadi angka kedua terakhir dalam bilangan biner), 2(hasil pembagian kedua): 2 = 1 sisa 0(0 akan menjadi angka ketiga terakhir dalam bilangan biner), 1 (hasil pembagian ketiga): 2 = 0 sisa 1 (0 akan menjadi angka pertama dalam bilangan biner) karena hasil bagi sudah 0 atau habis, sehingga bilangan biner dari 10 = 1010
atau dengan cara yang singkat 10:2=5(0),5:2=2(1),2:2=1(0),1:2=0(1)sisa hasil bagi dibaca dari belakang menjadi 1010


INTERNET PROTOKOL

1. ICMP (Internet Control Message Protocol)
Jika di perjalanan paket tersebut terjadi hal hal yang tidak diinginkan (salah satu jalur putus, router mengalami kongesti/macet, atau host/network tujuan sedang down), protokol IP hanya memberitahukan ke pengirim paket. Proses pemberitahuan biasanya menggunakan protokol Internet Control Message Protocol. ICMP akan memberitahukan bahwa terjadi masalah dalam pengiriman paket IP ke tujuan. Jika diinginkan keandalan yang lebih baik, keandalan itu harus disediakan oleh protokol yang berada diatas layer IP ini (yaitu TCP dan aplikasi pengguna).
.:: Time-to-Live (TTL) ::.
  • mempunyai nilai antara 0 sampai 255 (8 bit). TTL menunjukan berapa hop / router yang di ijinkan untuk dilewati oleh paket sebelum paket tersebut akan dibuang dari jaringan. Setiap router yang dilewati akan mengurangi nilai TTL satu (1) buah, jika nilai TTL mencapai 0 maka paket akan automatis dibuang dan router terakhir akan mengirimkan paket ICMP time excedeed. Hal ini dilakukan untuk mencegah paket IP terus menerus berada didalam network.Jadi bisa dibilang time to live adalah waktu yang diberikan.
  • Semakin besar nilainya maka semakin baik pula.
  • JIka melebihi nilai 255 maka akan time out (batas waktu yang diberikan tidak kembali-kembali dikenal dengan RTO (Request Timed Out)).
.:: Trace ::.
Trace adalah aktifitas melacak jaringan yang dilewati packet.
- kalau kurang 1 ms berarti masih dalam LAN
- kalau lebih dari 1 ms berarti diluar LAN
dan berhenti pada 30 network/hops
2. ARP (Address Resolution Protocol)
Address Resolution Protocol disingkat ARP adalah sebuah protokol dalam TCP/IP Protocol Suite yang bertanggungjawab dalam melakukan resolusi alamat IP ke dalam alamat Media Access Control (MAC Address).Hidup pada layer 1 dan layer 3.Fungsinya adalah untuk menterjemahkan alamat fisikal MAC address) dari IP address suatu host.Jembatannya adalah pada layer 2.
- MAP IP (layer 2) ke MAC address (layer 3)
- contoh physical address:
00-50-da-ee-a8-e4
- IP sifatnya adalah dinamis
- MAC address bersifat statis,tidak bisa diganti
3. RARP (Reverse Address Resolution Protocol)
•   RARP adalah protokol yang bertugas untuk menemukan IP address suatu host yang hanya tahu Hardware address-nya saja (misal pada diskless machine
•   Host akan mengirim paket berikut alamat MAC-nya secara broadcast, untuk meminta alamat IP yang sesuai.
•   RARP server akan menjawab paket tersebut, sehingga alamat IP akan teridentifikasi
- aplikasinya adalah penggunaan dynamic host configuration protocol (DHCP) 

IP ADDRESS

Alamat IP (Internet Protocol Address atau sering disingkat IP) adalah deretan angka biner antar 32-bit sampai 128-bit yang dipakai sebagai alamat identifikasi untuk tiap komputer host dalam jaringan Internet. Panjang dari angka ini adalah 32-bit (untuk IPv4 atau IP versi 4), dan 128-bit (untuk IPv6 atau IP versi 6) yang menunjukkan alamat dari komputer tersebut pada jaringan Internet berbasis TCP/IP.
Alamat IP versi 4
adalah sebuah jenis pengalamatan jaringan yang digunakan di dalam protokol jaringan TCP/IP yang menggunakan protokol IP versi 4. Panjang totalnya adalah 32-bit, dan secara teoritis dapat mengalamati hingga 4 miliar host komputer atau lebih tepatnya 4.294.967.296 host di seluruh dunia, jumlah host tersebut didapatkan dari 256 (didapatkan dari 8 bit) dipangkat 4(karena terdapat 4 oktet) sehingga nilai maksimal dari alamt IP versi 4 tersebut adalah 255.255.255.255 dimana nilai dihitung dari nol sehingga nilai nilai host yang dapat ditampung adalah 256x256x256x256=4.294.967.296 host. sehingga bila host yang ada diseluruh dunia melebihi kuota tersebut maka dibuatlah IP versi 6 atau IPv6.
Representasi Alamat
Alamat IP versi 4 umumnya diekspresikan dalam notasi desimal bertitik (dotted-decimal notation), yang dibagi ke dalam empat buah oktet berukuran 8-bit. Dalam beberapa buku referensi, format bentuknya adalah w.x.y.z. Karena setiap oktet berukuran 8-bit, maka nilainya berkisar antara 0 hingga 255 (meskipun begitu, terdapat beberapa pengecualian nilai).
Alamat IP yang dimiliki oleh sebuah host dapat dibagi dengan menggunakan subnet mask jaringan ke dalam dua buah bagian, yakni:
  • Network Identifier/NetID atau Network Address (alamat jaringan) yang digunakan khusus untuk mengidentifikasikan alamat jaringan di mana host berada.
    Dalam banyak kasus, sebuah alamat network identifier adalah sama dengan segmen jaringan fisik dengan batasan yang dibuat dan didefinisikan oleh router IP. Meskipun demikian, ada beberapa kasus di mana beberapa jaringan logis terdapat di dalam sebuah segmen jaringan fisik yang sama dengan menggunakan sebuah praktek yang disebut sebagai multinetting. Semua sistem di dalam sebuah jaringan fisik yang sama harus memiliki alamat network identifier yang sama. Network identifier juga harus bersifat unik dalam sebuah Internetwork. Jika semua node di dalam jaringan logis yang sama tidak dikonfigurasikan dengan menggunakan network identifier yang sama, maka terjadilah masalah yang disebut dengan routing error.
    Alamat network identifier tidak boleh bernilai 0 atau 255.
  • Host Identifier/HostID atau Host address (alamat host) yang digunakan khusus untuk mengidentifikasikan alamat host (dapat berupa workstation, server atau sistem lainnya yang berbasis teknologi TCP/IP) di dalam jaringan. Nilai host identifier tidak boleh bernilai 0 atau 255 dan harus bersifat unik di dalam network identifier/segmen jaringan di mana ia berada.
Jenis-jenis alamat
Alamat IPv4 terbagi menjadi beberapa jenis, yakni sebagai berikut:
  • Alamat Unicast, merupakan alamat IPv4 yang ditentukan untuk sebuah antarmuka jaringan yang dihubungkan ke sebuah Internetwork IP. Alamat unicast digunakan dalam komunikasi point-to-point atau one-to-one.
  • Alamat Broadcast, merupakan alamat IPv4 yang didesain agar diproses oleh setiap node IP dalam segmen jaringan yang sama. Alamat broadcast digunakan dalam komunikasi one-to-everyone.
  • Alamat Multicast, merupakan alamat IPv4 yang didesain agar diproses oleh satu atau beberapa node dalam segmen jaringan yang sama atau berbeda. Alamat multicast digunakan dalam komunikasi one-to-many.
Kelas-kelas alamat
Dalam RFC 791, alamat IP versi 4 dibagi ke dalam beberapa kelas, dilihat dari oktet pertamanya, seperti terlihat pada tabel. Sebenarnya yang menjadi pembeda kelas IP versi 4 adalah pola biner yang terdapat dalam oktet pertama (utamanya adalah bit-bit awal/high-order bit), tapi untuk lebih mudah mengingatnya, akan lebih cepat diingat dengan menggunakan representasi desimal.
Kelas Alamat IP Oktet pertama
(desimal)
Oktet pertama
(biner)
Digunakan oleh
Kelas A 1–126 0xxx xxxx Alamat unicast untuk jaringan skala besar
Kelas B 128–191 10xx xxxx Alamat unicast untuk jaringan skala menengah hingga skala besar
Kelas C 192–223 110x xxxx Alamat unicast untuk jaringan skala kecil
Kelas D 224–239 1110 xxxx Alamat multicast (bukan alamat unicast)
Kelas E 240–255 1111 xxxx Direservasikan;umumnya digunakan sebagai alamat percobaan (eksperimen); (bukan alamat unicast)
Kelas A
Alamat-alamat kelas A diberikan untuk jaringan skala besar. Nomor urut bit tertinggi di dalam alamat IP kelas A selalu diset dengan nilai 0 (nol). Tujuh bit berikutnya—untuk melengkapi oktet pertama—akan membuat sebuah network identifier. 24 bit sisanya (atau tiga oktet terakhir) merepresentasikan host identifier. Ini mengizinkan kelas A memiliki hingga 126 jaringan, dan 16,777,214 host tiap jaringannya. Alamat dengan oktet awal 127 tidak diizinkan, karena digunakan untuk mekanisme Interprocess Communication (IPC) di dalam mesin yang bersangkutan.
Kelas B
Alamat-alamat kelas B dikhususkan untuk jaringan skala menengah hingga skala besar. Dua bit pertama di dalam oktet pertama alamat IP kelas B selalu diset ke bilangan biner 10. 14 bit berikutnya (untuk melengkapi dua oktet pertama), akan membuat sebuah network identifier. 16 bit sisanya (dua oktet terakhir) merepresentasikan host identifier. Kelas B dapat memiliki 16,384 network, dan 65,534 host untuk setiap network-nya.
Kelas C
Alamat IP kelas C digunakan untuk jaringan berskala kecil. Tiga bit pertama di dalam oktet pertama alamat kelas C selalu diset ke nilai biner 110. 21 bit selanjutnya (untuk melengkapi tiga oktet pertama) akan membentuk sebuah network identifier. 8 bit sisanya (sebagai oktet terakhir) akan merepresentasikan host identifier. Ini memungkinkan pembuatan total 2,097,152 buah network, dan 254 host untuk setiap network-nya.

Kelas D
Alamat IP kelas D disediakan hanya untuk alamat-alamat IP multicast, sehingga berbeda dengan tiga kelas di atas. Empat bit pertama di dalam IP kelas D selalu diset ke bilangan biner 1110. 28 bit sisanya digunakan sebagai alamat yang dapat digunakan untuk mengenali host. Untuk lebih jelas mengenal alamat ini, lihat pada bagian Alamat Multicast IPv4.
Kelas E
Alamat IP kelas E disediakan sebagai alamat yang bersifat “eksperimental” atau percobaan dan dicadangkan untuk digunakan pada masa depan. Empat bit pertama selalu diset kepada bilangan biner 1111. 28 bit sisanya digunakan sebagai alamat yang dapat digunakan untuk mengenali host.


SUBNETTING

Pengertian
Subnetting adalah pembagian suatu kelompok alamat IP menjadi beberapa network ID lain dengan jumlah anggota jaringan yang lebih kecil, yang disebut subnet (subnetwork).
Subnet Mask merupakan angka biner 32 bit yang digunakan untuk :
•Membedakan antara network ID dengan host ID.
•Menunjukkan letak suatu host, apakah host tersebut berada pada jaringan luar atau jaringan lokal.
Tujuan
•Membagi satu kelas netwok atas sejumlah subnetwork dengan arti membagi suatu kelas jaringan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.
•Menempatkan suatu host, apakah berada dalam satu jaringan atau tidak.
•Untuk mengatasi masalah perbedaaan hardware dengan topologi fisik jaringan.
•Penggunaan IP Address yang lebih efisien.
Dua pendekatan dalam melakukan pembentukan subnet
•Berdasarkan jumlah jaringan yang akan dibentuk.
•Berdasarkan jumlah host yang dibentuk dalam jaringan.


·       Total alamat host dalam sebuah network adalah: 2N – 2 (Dimana N adalah jumlah bit).
o   Pengurangan 2 disini dikarenakan dalam satu alamat jaringan selalu terdapat network address dan broadcast address.
·       Untuk memisahkan antara network-id dan host-id diperlukan sebuah netmask.
o   Network-id menggunakan mask binary 1, sedangkan host-id menggunakan mask binary 0.
o   Network-id dan Host-Id dibedakan dengan cara melakukan operasi AND antara IP address dan Netmask.
·       CIDR : Classless Inter-domain Routing.
o   Dengan CIDR, network-prefix pada alamat IP tidak harus 8, 16, dan 24 bit seperti pada kelas A, B, dan C.
o   Dengan CIDR, network prefix dituliskan dalam bentuk: X.X.X.X/n
o   Dimana n adalah jumlah bit pada netmask.
·       IP address dengan alamat IP byte pertama adalah 127, kemudian 3 byte yang lain diisi sembarang adalah alamat loopback.
o   Sehingga alamat IP 127.x.x.x tidak dapat digunakan untuk mengalamati host dalam jaringan. Contoh: 127.0.0.1
·       International Assigned Numbers Authority (IANA) mengelompokkan alamat IP-Address yang dinyatakan “Private” adalah kelompok IP yang hanya untuk digunakan di kalangan sendiri dan tidak berlaku di Internet.
o   Class A : 10.0.0.0 – 10.255.255.255 (1 network)
o   Class B : 172.16.0.0 – 172.31.255.255 (16 network)
o   Class C : 192.168.0.0 – 192.168.255.255 (256 network)
·       Di dalam jaringan TCP/IP setiap terminal diidentifikasi dengan sebuah alamat IP unik.
·       Router dapat memiliki lebih dari sebuah alamat IP, karena itu disebut sebagai Multihomed Device.
·       Setiap 8 bit nomor IP dapat dikonversi ke desimal dengan komposisi :
o   (x*27+x*26+x*25+x*24+x*23+x*22+x*21+ x*20 ),
Atau
o   (x*128+x*64+x*32+x*16+x*8+x*4+x*2+ x*1),
o   Bentuk desimal dari 11001011 dapat dilakukan dengan :
o   =1*128+1*64+0*32+0*16+1*8+0*4+1* 2+1*1
o   = 128 + 64 + 0 + 0 + 8 + 0 + 2 + 1
o   = 203
·       Untuk mengubah desimal menjadi biner dapat dilakukan dengan melakukan pengurangan dengan kelipatan pengalian diatas, jika dikurangi bisa maka diberi angka 1 dan jika tidak bisa diberi angka 0.
·       Ada 3 macam kategori pengalamatan IP, yaitu:
o   Classfull Addressing (conventional) : pengalamatan berdasarkan kelas, tanpa perlu ada subnetting.
o   Subnetted Classfull Addressing : pengalamatan dengan subnetting.
o   Classless Addressing: CIDR
·       SubNetting adalah proses membagi sebuah network menjadi beberapa Sub-network.
·       Alasan-alasan perlunya dibentuk subnetting antara lain :
o   Memudahkan pengelolaan jaringan.
o   Mereduksi traffic yang disebabkan oleh broadcast maupun benturan (collision).
o   Membantu pengembangan jaringan ke jarak geografis yang lebih jauh (LAN ke MAN).
·       Pembentukan subnet dilakukan dengan cara mengambil beberapa bit pada bagian HostId untuk dijadikan SubnetId
·       Subnetting membagi network menjadi subnet dengan jumlah host yang sama untuk setiap subnet.